Catatan Kuliah Manajemen & Bisnis

Catatan Kuliah Manajemen  &  Bisnis
Dampak Thrifting terhadap Lingkungan — Antara Solusi dan Tantangan

Dampak Thrifting terhadap Lingkungan: Antara Solusi dan Tantangan

Disusun oleh

Thrifting dipandang sebagai bagian dari gerakan sustainable fashion karena membantu memperpanjang umur pakai pakaian dan mengurangi limbah tekstil. Namun thrifting juga menyisakan tantangan—seperti masuknya pakaian tak layak pakai dan risiko konsumsi berlebihan—yang wajib ditangani agar manfaat lingkungan benar-benar maksimal.

Thrifting dan Gerakan Sustainable Fashion

Tren thrifting berkembang pesat—tidak hanya karena sisi ekonomis, tetapi juga karena nilai lingkungan yang dibawa. Industri fashion adalah penyumbang limbah besar dan berkonsumsi sumber daya intensif. Dengan memakai kembali pakaian layak pakai, kita dapat mengurangi kebutuhan produksi baru, menurunkan konsumsi air dan energi, serta mengurangi volume limbah tekstil yang berakhir di TPA.

Manfaat Lingkungan dari Thrifting

Beberapa manfaat nyata yang didorong thrifting adalah: perpanjangan masa pakai produk, pengurangan permintaan produksi baru, penurunan total jejak karbon, dan penghematan air serta bahan kimia industri. Contoh konkret: produksi satu kaus katun dapat membutuhkan hingga 2.700 liter air; memperpanjang penggunaan mengurangi tekanan tersebut.

“Semakin lama sebuah pakaian digunakan, semakin kecil jejak ekologis yang dihasilkan sepanjang siklus hidupnya.”

Tantangan & Risiko Lingkungan

Meskipun bernilai, thrifting juga membawa risiko jika tidak dikelola: barang impor yang tak layak pakai, akumulasi sampah sintetis di TPA, dan potensi mendorong perilaku konsumsi berlebih.

Masuknya Barang Tak Layak Pakai

Banyak kiriman berupa bal pakaian impor berisi campuran barang layak dan tidak layak pakai. Barang yang rusak atau tidak dapat dijual akhirnya menumpuk sebagai limbah lokal.

Menambah Beban TPA

Pakaian sintetis seperti polyester dan nilon memerlukan ratusan tahun untuk terurai. Tanpa manajemen limbah yang baik, thrifting bisa menambah masalah sampah jangka panjang.

Potensi Overconsumption

Harga murah di pasar thrifting dapat mendorong pembelian impulsif. Kebiasaan membeli lebih banyak daripada yang dibutuhkan bertolak belakang dengan prinsip konsumsi berkelanjutan.

Praktik Thrifting yang Bertanggung Jawab

Untuk memaksimalkan manfaat lingkungan, beberapa langkah praktis direkomendasikan:

  • Pilih hanya barang yang diperlukan dan tahan lama.
  • Periksa kualitas sebelum membeli sehingga pakaian dipakai lama.
  • Dukung penjual yang mengkurasi dan membersihkan barang.
  • Donasikan atau jual kembali pakaian layak pakai—hindari pembuangan.
  • Praktik upcycling untuk memberi nilai tambah pada pakaian lama.

Kesimpulan

Thrifting merupakan peluang nyata untuk mengurangi dampak lingkungan industri fashion jika dilakukan secara sadar. Namun, tanpa kurasi, regulasi, dan edukasi publik, thrifting juga dapat menghasilkan masalah baru. Pendekatan terpadu—melibatkan konsumen, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan—diperlukan untuk memastikan thrifting berkontribusi pada transisi menuju mode yang lebih berkelanjutan.

Referensi (pilihan, format APA)

  1. Fletcher, K. (2014). Sustainable Fashion and Textiles: Design Journeys. Routledge.
  2. Allwood, J. M., Laursen, S. E., de Rodríguez, C. M., & Bocken, N. M. (2006). Well-dressed? The present and future sustainability of clothing and textiles in the United Kingdom. University of Cambridge.
  3. Barnes, L., & Lea-Greenwood, G. (2006). Fast fashioning the supply chain: shaping the research agenda. Journal of Fashion Marketing and Management, 10(3), 259–271.
  4. Kennedy, S. (2020). Circular economy approaches for textiles. Journal of Cleaner Production.
Disusun oleh Nono Sugiono, © 2025

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " "

Posting Komentar

💖 Donasi