Catatan Kuliah Manajemen & Bisnis

Catatan Kuliah Manajemen  &  Bisnis

BENARKAH THRIFTING MENGGANGGU INDUSTRI TEKSTIL DI INDONESIA?

Benarkah Thrifting Mengganggu Industri Tekstil di Indonesia?

Dalam beberapa tahun terakhir, thrifting menjadi fenomena yang semakin ramai dibicarakan. Aktivitas membeli pakaian bekas—baik melalui pasar loak, toko barang bekas, maupun platform digital—kini menjelma menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda. Tren ini tidak hanya dipandang sebagai cara hemat untuk tampil modis, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan.

Namun, di tengah popularitas thrifting, muncul satu pertanyaan besar yang semakin sering diperbincangkan: apakah thrifting benar-benar berdampak negatif pada industri tekstil lokal di Indonesia? Pertanyaan ini penting, mengingat industri tekstil dan pakaian jadi merupakan salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar di tanah air.

Untuk memahami persoalan ini, kita perlu meninjau fenomena thrifting secara lebih mendalam dan menyeluruh.

Antara Tren Kekinian dan Realitas Ekonomi

Thrifting berkembang bukan hanya karena harganya yang sangat terjangkau. Ada beberapa alasan mengapa kegiatan ini begitu digemari oleh anak muda:

  • Barangnya unik dan tidak pasaran,
  • Kualitas pakaian impor dianggap lebih baik,
  • Aktivitasnya menyenangkan seperti berburu harta karun,
  • Tren fashion vintage yang terus diminati.

Namun, popularitas ini juga menghadirkan dinamika baru dalam pola konsumsi masyarakat. Jika sebelumnya belanja pakaian didominasi oleh produk lokal atau fast fashion, kini pakaian bekas impor menjadi alternatif yang semakin dilirik. Di sinilah titik perdebatan bermula.

Apakah Thrifting Mengganggu Industri Tekstil Lokal?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sesederhana “ya” atau “tidak”, karena dampaknya bersifat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

1. Persaingan Harga yang Tidak Seimbang

Produk thrifting—terutama yang masuk secara ilegal—umumnya merupakan pakaian bekas impor yang dijual dengan harga jauh lebih murah. Satu potong pakaian bisa dibanderol antara Rp10.000 hingga Rp50.000.

Bandingkan dengan produk lokal yang harus menanggung biaya produksi, upah pekerja, pajak, hingga bahan baku. Secara ekonomi, pakaian bekas impor menjadi pesaing sulit bagi industri lokal, terutama untuk segmen konsumen kelas menengah ke bawah.

2. Potensi Penurunan Permintaan Produk Lokal

Jika lebih banyak konsumen memilih pakaian bekas impor, permintaan terhadap produk tekstil lokal otomatis menurun. Dampaknya bisa dirasakan pada:

  • penurunan tingkat produksi,
  • berkurangnya omzet perusahaan,
  • berkurangnya penyerapan tenaga kerja.

3. Masalah Legalitas Pakaian Bekas Impor

Pemerintah telah melarang impor pakaian bekas melalui Permendag No. 51/2015, terutama karena alasan kesehatan dan perlindungan industri dalam negeri. Namun, faktanya pakaian bekas impor masih beredar luas.

Hal ini membuat industri lokal merasa dirugikan, bukan semata-mata karena konsep thrifting, tetapi karena arus barang impor ilegal yang tidak terkontrol.

Namun, Apakah Thrifting Satu-Satunya Penyebab?

Menyalahkan thrifting sebagai penyebab utama melemahnya industri tekstil juga tidak sepenuhnya tepat. Ada sejumlah faktor lain yang dampaknya jauh lebih besar, antara lain:

1. Persaingan dengan Fast Fashion Global

Brand internasional memproduksi pakaian secara massal dengan harga murah dan desain yang selalu berganti. Banyak konsumen beralih ke brand-brand ini karena dianggap lebih modis dan bergengsi.

2. Biaya Produksi Lokal yang Masih Tinggi

Industri tekstil Indonesia menghadapi berbagai tantangan, seperti:

  • bahan baku yang mahal,
  • ketergantungan impor serat tertentu,
  • tingginya biaya energi,
  • mesin produksi yang belum sepenuhnya modern.

3. Perubahan Gaya Hidup Konsumen

Generasi muda semakin menyukai gaya yang cepat berubah dan unik. Thrifting menjadi salah satu pilihan karena menawarkan variasi fashion yang lebih kreatif.

Thrifting Juga Punya Dampak Positif

Di tengah kontroversinya, thrifting tetap memberikan sejumlah manfaat yang tidak bisa diabaikan:

1. Mengurangi Limbah Tekstil

Industri fashion merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Thrifting membantu memperpanjang usia pakaian, sehingga mengurangi jumlah limbah yang berakhir di TPA.

2. Menumbuhkan Kreativitas

Banyak anak muda melakukan upcycling, memodifikasi pakaian bekas, atau memadupadankan gaya baru. Aktivitas ini mendorong kreativitas sekaligus menghasilkan identitas fashion yang unik.

3. Menjadi Sumber Penghasilan Baru

Mulai dari pedagang pasar hingga penjual online, thrifting membuka peluang bisnis baru yang menyerap tenaga kerja informal.

Lalu, Apa Solusinya?

Alih-alih memusuhi thrifting, banyak ahli menilai bahwa pemerintah dan industri tekstil perlu mengambil pendekatan yang lebih adaptif.

1. Mengembangkan Industri Fashion Berkelanjutan

Industri lokal dapat mulai mengadopsi konsep slow fashion, memproduksi pakaian ramah lingkungan, dan mendukung praktik daur ulang.

2. Meningkatkan Kualitas dan Desain Produk Lokal

Jika produk lokal unggul dari sisi desain dan kualitas, konsumen akan lebih memilih barang buatan Indonesia.

3. Memperketat Pengawasan Barang Impor Ilegal

Masalah utama bukan thrifting itu sendiri, tetapi pakaian impor ilegal. Penegakan hukum diperlukan untuk melindungi industri lokal.

4. Edukasi Konsumen

Masyarakat perlu memahami pentingnya keputusan belanja mereka terhadap perekonomian nasional dan keberlanjutan lingkungan.

Tidak Hitam Putih

Jadi, benarkah thrifting mengganggu industri tekstil di Indonesia? Jawabannya: ada dampaknya, tetapi bukan satu-satunya penyebab.

Thrifting memang dapat menekan permintaan produk lokal, terutama karena kehadiran pakaian bekas impor dengan harga sangat rendah. Namun, tantangan industri tekstil Indonesia jauh lebih kompleks, dipengaruhi oleh persaingan global, biaya produksi tinggi, dan perubahan gaya hidup konsumen.

Di sisi lain, thrifting membawa manfaat ekologis, peluang usaha, dan ruang kreativitas baru. Yang dibutuhkan bukan pelarangan total, melainkan pengawasan yang ketat, kebijakan yang adil, serta inovasi dari industri tekstil agar tetap relevan di era fashion berkelanjutan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BENARKAH THRIFTING MENGGANGGU INDUSTRI TEKSTIL DI INDONESIA?"

Posting Komentar

💖 Donasi