Catatan Kuliah Manajemen & Bisnis

Catatan Kuliah Manajemen  &  Bisnis

Soal Latihan Risiko dalam Proses Bisnis


 Subtopik 1: Identifikasi Risiko dalam Proses Bisnis

  1. Soal: Jelaskan apa yang dimaksud dengan risiko dalam proses bisnis!
    Jawaban: Risiko dalam proses bisnis adalah kemungkinan terjadinya peristiwa atau kondisi yang dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi, seperti kegagalan proses, kesalahan operasional, atau kerugian finansial.
    Penjelasan: Risiko muncul akibat ketidakpastian dalam aktivitas bisnis. Identifikasi risiko bertujuan menemukan sumber risiko sebelum berdampak buruk.
    Contoh: Risiko pada proses produksi misalnya adalah kerusakan mesin yang menyebabkan keterlambatan produksi.
  2. Soal: Apa perbedaan antara risiko internal dan eksternal dalam bisnis?
    Jawaban: Risiko internal berasal dari dalam organisasi, seperti kegagalan sistem atau kesalahan pekerja, sedangkan risiko eksternal berasal dari luar, seperti perubahan regulasi atau bencana alam.
    Penjelasan: Penting untuk membedakan sumber risiko agar mitigasi dapat disesuaikan.
    Contoh: Risiko internal—kesalahan input data oleh karyawan. Risiko eksternal—pandemi COVID-19 yang mempengaruhi rantai pasokan.
  3. Soal: Jelaskan tiga jenis risiko utama dalam proses bisnis!
    Jawaban:
    • Operasional: Risiko akibat kesalahan proses, teknologi, atau manusia.
    • Strategis: Risiko yang muncul akibat keputusan bisnis yang tidak tepat.
    • Keuangan: Risiko terkait arus kas, hutang, atau kerugian investasi.
      Penjelasan: Identifikasi risiko berdasarkan kategorinya membantu dalam merumuskan mitigasi spesifik.
      Contoh: Risiko operasional—kegagalan mesin produksi. Risiko keuangan—utang yang gagal dibayar.
  4. Soal: Mengapa identifikasi risiko penting dilakukan sebelum bisnis berjalan?
    Jawaban: Agar bisnis dapat mempersiapkan langkah pencegahan dan mitigasi lebih awal untuk meminimalkan dampak kerugian.
    Penjelasan: Risiko yang tidak diidentifikasi sejak awal bisa berkembang menjadi masalah besar.
    Contoh: Tanpa identifikasi risiko, bisnis bisa mengalami kebangkrutan akibat masalah arus kas.
  5. Soal: Sebutkan langkah-langkah dalam mengidentifikasi risiko proses bisnis!
    Jawaban:
    • Menganalisis proses bisnis yang ada.
    • Mengidentifikasi potensi penyebab kegagalan.
    • Melibatkan stakeholder terkait.
    • Membuat daftar potensi risiko.
    • Menilai dampak dari risiko tersebut.
      Penjelasan: Proses ini membantu menyusun mitigasi yang efektif.
      Contoh: Dalam perusahaan manufaktur, risiko downtime mesin diidentifikasi melalui analisis performa operasional.

Subtopik 2: Teknik Mitigasi Risiko

  1. Soal: Apa yang dimaksud dengan mitigasi risiko dalam bisnis?
    Jawaban: Mitigasi risiko adalah tindakan atau strategi untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko atau meminimalkan dampaknya jika terjadi.
    Penjelasan: Tujuan mitigasi adalah memastikan risiko dapat dikelola dengan baik.
    Contoh: Mitigasi risiko kerusakan mesin adalah dengan melakukan perawatan berkala.
  2. Soal: Jelaskan empat teknik mitigasi risiko yang umum digunakan!
    Jawaban:
    • Menghindari Risiko: Menghentikan aktivitas yang berisiko tinggi.
    • Mengurangi Risiko: Mengambil tindakan untuk meminimalkan dampak risiko.
    • Memindahkan Risiko: Mengalihkan risiko ke pihak lain (misalnya asuransi).
    • Menerima Risiko: Menerima risiko jika dampaknya kecil.
      Penjelasan: Teknik mitigasi dipilih sesuai tingkat keparahan risiko.
      Contoh: Untuk risiko kebakaran, perusahaan membeli asuransi sebagai cara memindahkan risiko.
  3. Soal: Berikan contoh penerapan mitigasi risiko dalam bisnis manufaktur!
    Jawaban: Melakukan perawatan rutin terhadap mesin produksi untuk mengurangi risiko kerusakan dan downtime.
    Penjelasan: Mitigasi preventif sangat efektif dalam industri yang bergantung pada teknologi.
    Contoh: Jadwal maintenance mesin bulanan di pabrik mengurangi risiko kegagalan produksi.
  4. Soal: Mengapa perusahaan perlu menyusun rencana mitigasi risiko?
    Jawaban: Agar siap menghadapi kemungkinan masalah yang dapat mengganggu operasional dan memastikan bisnis tetap berjalan efektif.
    Penjelasan: Rencana mitigasi mengurangi dampak kerugian ketika risiko terjadi.
    Contoh: Dalam perusahaan logistik, rencana mitigasi termasuk penyediaan alternatif rute pengiriman saat ada bencana alam.
  5. Soal: Bagaimana pendekatan asuransi membantu dalam mitigasi risiko?
    Jawaban: Asuransi memindahkan risiko ke perusahaan asuransi, sehingga perusahaan dapat fokus pada aktivitas inti.
    Penjelasan: Biaya kerugian ditanggung oleh perusahaan asuransi berdasarkan premi yang dibayar.
    Contoh: Asuransi kebakaran melindungi perusahaan dari kerugian finansial akibat kebakaran.

Subtopik 3: Penerapan FMEA (Failure Mode and Effects Analysis)

  1. Soal: Apa itu FMEA (Failure Mode and Effects Analysis)?
    Jawaban: FMEA adalah metode sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengurangi risiko potensial dari kegagalan suatu proses, produk, atau sistem.
    Penjelasan: FMEA digunakan untuk mencegah kegagalan sebelum terjadi.
    Contoh: Dalam produksi mobil, FMEA membantu mengidentifikasi risiko cacat produk seperti rem yang tidak berfungsi.
  2. Soal: Sebutkan langkah-langkah utama dalam penerapan FMEA!
    Jawaban:
    • Mengidentifikasi proses yang akan dianalisis.
    • Menentukan mode kegagalan potensial.
    • Menganalisis efek dari mode kegagalan.
    • Menilai tingkat keparahan, frekuensi, dan deteksi risiko (RPN).
    • Menentukan langkah mitigasi untuk mengurangi RPN.
      Penjelasan: FMEA membantu perusahaan fokus pada risiko dengan RPN tertinggi.
      Contoh: Risiko "mesin berhenti" dinilai berdasarkan dampaknya terhadap produksi.
  3. Soal: Jelaskan bagaimana menghitung Risk Priority Number (RPN) dalam FMEA!
    Jawaban: RPN dihitung dengan rumus:
    RPN=TingkatKeparahan×FrekuensiTerjadinya×KemampuanDeteksiRPN = Tingkat Keparahan × Frekuensi Terjadinya × Kemampuan Deteksi
    Penjelasan: Nilai RPN yang tinggi menunjukkan prioritas mitigasi yang harus segera dilakukan.
    Contoh: Jika keparahan = 8, frekuensi = 5, deteksi = 3, maka RPN = 120.
  4. Soal: Mengapa FMEA penting dalam analisis risiko?
    Jawaban: Karena FMEA membantu mengidentifikasi kegagalan yang paling berisiko dan memungkinkan perbaikan sebelum kegagalan tersebut terjadi.
    Penjelasan: Fokusnya pada pencegahan kerusakan yang bisa berdampak signifikan.
    Contoh: Dalam industri elektronik, FMEA mencegah produksi komponen cacat.
  5. Soal: Berikan contoh penerapan FMEA dalam bisnis makanan dan minuman!
    Jawaban: FMEA dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko kontaminasi pada produk makanan.
    Penjelasan: Menganalisis mode kegagalan seperti kebersihan mesin atau kesalahan pengemasan.
    Contoh: Risiko kontaminasi kemasan dengan RPN tertinggi diatasi dengan inspeksi tambahan.
  1. Soal: Apa saja alat yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko dalam proses bisnis?
    Jawaban: Alat-alat seperti brainstorming, diagram fishbone, SWOT analysis, checklists, dan wawancara stakeholder.
    Penjelasan: Penggunaan alat ini membantu tim menganalisis sumber risiko secara sistematis.
    Contoh: Diagram fishbone digunakan di pabrik untuk menemukan penyebab keterlambatan produksi.
  2. Soal: Mengapa brainstorming efektif untuk identifikasi risiko?
    Jawaban: Brainstorming melibatkan berbagai perspektif dari anggota tim sehingga lebih banyak potensi risiko yang terungkap.
    Penjelasan: Proses ini membuka ide kreatif dari berbagai pihak.
    Contoh: Brainstorming tim operasional menemukan risiko "kurangnya bahan baku" sebagai penyebab keterlambatan produksi.
  3. Soal: Jelaskan bagaimana diagram fishbone membantu identifikasi risiko!
    Jawaban: Diagram fishbone memetakan penyebab masalah dari beberapa kategori seperti manusia, mesin, metode, material, dan lingkungan.
    Penjelasan: Teknik ini membantu visualisasi penyebab utama dari risiko.
    Contoh: Dalam produksi, kategori mesin bisa menunjukkan risiko "mesin sering rusak karena perawatan jarang dilakukan."
  4. Soal: Apa peran stakeholder dalam proses identifikasi risiko?
    Jawaban: Stakeholder memiliki pengetahuan mendalam mengenai proses, pengalaman sebelumnya, dan wawasan terhadap risiko yang mungkin terjadi.
    Penjelasan: Melibatkan stakeholder membantu mendapatkan data lebih akurat.
    Contoh: Supplier memberi informasi risiko keterlambatan pengiriman akibat masalah logistik.
  5. Soal: Bagaimana SWOT analysis digunakan untuk identifikasi risiko?
    Jawaban: SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan internal dan ancaman eksternal yang bisa menjadi risiko.
    Penjelasan: Fokus pada kelemahan dan ancaman membantu menemukan area risiko.
    Contoh: Perusahaan retail menemukan ancaman risiko persaingan dari e-commerce dalam analisis SWOT.
  6. Soal: Sebutkan tiga risiko utama yang bisa terjadi dalam bisnis berbasis teknologi!
    Jawaban: Risiko keamanan data (cybersecurity), downtime server, dan kesalahan dalam implementasi teknologi.
    Penjelasan: Bisnis berbasis teknologi sangat rentan terhadap risiko operasional.
    Contoh: Peretasan sistem yang menyebabkan kebocoran data pelanggan.
  7. Soal: Apa dampak risiko yang tidak teridentifikasi pada bisnis?
    Jawaban: Bisnis bisa mengalami kerugian finansial, gangguan operasional, kehilangan pelanggan, hingga kebangkrutan.
    Penjelasan: Tanpa identifikasi, risiko sulit dikelola.
    Contoh: Tanpa mengidentifikasi risiko kerusakan mesin, produksi bisa terhenti lama.
  8. Soal: Bagaimana perusahaan bisa memprioritaskan risiko setelah diidentifikasi?
    Jawaban: Dengan menilai risiko berdasarkan tingkat keparahan (severity), frekuensi (occurrence), dan kemampuan deteksi.
    Penjelasan: Prioritisasi risiko membantu mengalokasikan sumber daya ke risiko tertinggi.
    Contoh: Risiko kebakaran memiliki keparahan tinggi dan perlu mitigasi segera.
  9. Soal: Apa risiko yang sering muncul dalam rantai pasokan?
    Jawaban: Risiko keterlambatan pengiriman, kualitas bahan baku rendah, dan gangguan transportasi.
    Penjelasan: Rantai pasokan adalah bagian penting operasional bisnis.
    Contoh: Supplier tidak memenuhi standar kualitas bahan baku sehingga produksi terhambat.
  10. Soal: Apa yang dimaksud dengan analisis risiko kualitatif?
    Jawaban: Analisis risiko yang menilai dampak risiko secara deskriptif tanpa angka atau data kuantitatif.
    Penjelasan: Penilaian kualitatif digunakan jika data tidak tersedia.
    Contoh: Risiko "respon pelanggan yang buruk" dianalisis dengan feedback pelanggan, bukan angka.
  1. Soal: Jelaskan pendekatan preventif dalam mitigasi risiko!
    Jawaban: Pendekatan preventif adalah tindakan yang dilakukan sebelum risiko terjadi untuk mencegah dampaknya.
    Penjelasan: Fokusnya pada pencegahan sebelum risiko berdampak.
    Contoh: Pemasangan sensor deteksi kebakaran di gudang perusahaan.
  2. Soal: Apa perbedaan antara mitigasi proaktif dan reaktif?
    Jawaban: Mitigasi proaktif dilakukan sebelum risiko terjadi, sedangkan reaktif dilakukan setelah risiko terjadi.
    Penjelasan: Proaktif lebih efektif karena mencegah kerugian sejak awal.
    Contoh: Proaktif—pelatihan pekerja. Reaktif—perbaikan mesin setelah rusak.
  3. Soal: Mengapa pelatihan karyawan penting dalam mitigasi risiko?
    Jawaban: Pelatihan meningkatkan kompetensi karyawan untuk mencegah kesalahan yang dapat menyebabkan risiko.
    Penjelasan: Karyawan yang terlatih lebih efektif dalam menjalankan prosedur.
    Contoh: Pelatihan keselamatan kerja mengurangi risiko kecelakaan di pabrik.
  4. Soal: Bagaimana teknologi membantu mitigasi risiko dalam bisnis?
    Jawaban: Teknologi seperti sistem monitoring, otomatisasi, dan AI membantu mendeteksi serta meminimalkan risiko lebih cepat.
    Penjelasan: Teknologi meningkatkan efisiensi dan akurasi mitigasi.
    Contoh: Sistem ERP memonitor stok bahan baku untuk mencegah kehabisan stok.
  5. Soal: Jelaskan apa yang dimaksud dengan kontrol risiko!
    Jawaban: Kontrol risiko adalah langkah-langkah pengawasan untuk memastikan risiko tetap dalam batas toleransi.
    Penjelasan: Kontrol dilakukan melalui evaluasi rutin dan penyesuaian kebijakan.
    Contoh: Audit internal dilakukan untuk memastikan SOP dipatuhi.
  1. Soal: Apa tujuan utama penerapan FMEA dalam bisnis?
    Jawaban: Mencegah kegagalan proses, mengurangi dampaknya, dan meningkatkan efisiensi operasional.
    Penjelasan: FMEA berfokus pada identifikasi mode kegagalan dan mitigasinya.
    Contoh: Dalam produksi elektronik, risiko soldering cacat dianalisis dan dicegah melalui pelatihan teknisi.
  2. Soal: Mengapa RPN penting dalam analisis FMEA?
    Jawaban: RPN membantu menentukan prioritas risiko mana yang harus ditangani terlebih dahulu berdasarkan tingkat keparahan, frekuensi, dan deteksi.
    Penjelasan: Fokus pada risiko dengan RPN tertinggi.
    Contoh: Risiko dengan RPN 300 harus segera dimitigasi, dibandingkan RPN 50.
  1. Soal: Apa saja langkah-langkah dalam melakukan FMEA?
    Jawaban: Langkah-langkah FMEA meliputi:
  1. Identifikasi proses dan komponennya,
  2. Identifikasi mode kegagalan,
  3. Menilai keparahan (severity), frekuensi (occurrence), dan deteksi (detection),
  4. Menghitung RPN (Risk Priority Number),
  5. Menyusun tindakan mitigasi,
  6. Implementasi tindakan, dan
  7. Evaluasi ulang.
    Penjelasan: Langkah sistematis ini memastikan semua risiko dianalisis dan dimitigasi.
    Contoh: Pada pabrik sepatu, langkah FMEA mengidentifikasi risiko "jahitan lepas" dengan RPN tinggi sehingga dilakukan peningkatan pengawasan kualitas jahitan.
  1. Soal: Apa yang dimaksud dengan mode kegagalan dalam FMEA?
    Jawaban: Mode kegagalan adalah cara atau mekanisme di mana suatu proses, produk, atau sistem bisa gagal mencapai tujuannya.
    Penjelasan: Identifikasi mode kegagalan membantu mengetahui titik kritis dari proses.
    Contoh: Dalam proses pengepakan barang, mode kegagalan bisa berupa "pengemasan tidak rapi" atau "produk salah dikirim."
  2. Soal: Jelaskan cara menghitung RPN dalam FMEA!
    Jawaban: RPN dihitung dengan rumus:
    RPN = Severity (S) x Occurrence (O) x Detection (D)
  • Severity: Tingkat keparahan dampak kegagalan (skala 1–10),
  • Occurrence: Frekuensi terjadinya kegagalan (skala 1–10),
  • Detection: Kemampuan mendeteksi kegagalan (skala 1–10).
    Penjelasan: RPN menunjukkan tingkat prioritas risiko; semakin tinggi RPN, semakin perlu perhatian segera.
    Contoh: Jika S = 8, O = 6, dan D = 5, maka RPN = 8 x 6 x 5 = 240.
  1. Soal: Mengapa perlu dilakukan evaluasi ulang setelah penerapan tindakan mitigasi dalam FMEA?
    Jawaban: Evaluasi ulang dilakukan untuk memastikan efektivitas tindakan mitigasi dalam menurunkan RPN.
    Penjelasan: Jika RPN tidak turun, tindakan mitigasi perlu diperbaiki atau disesuaikan.
    Contoh: Setelah memperbaiki prosedur pengepakan barang, perusahaan mengevaluasi ulang dan melihat RPN turun dari 240 ke 90.
  2. Soal: Apa perbedaan antara Severity dan Occurrence dalam FMEA?
    Jawaban:
  • Severity mengukur dampak dari suatu kegagalan,
  • Occurrence mengukur seberapa sering kegagalan terjadi.
    Penjelasan: Keduanya digunakan untuk menentukan prioritas risiko.
    Contoh: Risiko "baterai meledak" memiliki severity tinggi (9) tetapi occurrence rendah (2).
  1. Soal: Apa pentingnya Detection dalam FMEA?
    Jawaban: Detection mengukur seberapa efektif sistem dapat mendeteksi potensi kegagalan sebelum berdampak ke proses.
    Penjelasan: Semakin tinggi nilai deteksi (D), semakin sulit kegagalan dideteksi.
    Contoh: Sistem pengecekan manual memiliki nilai D = 8 karena risiko salah deteksi lebih tinggi dibandingkan sistem otomatis.
  2. Soal: Berikan contoh penerapan FMEA dalam industri manufaktur!
    Jawaban: Dalam produksi otomotif, FMEA digunakan untuk menganalisis risiko pada komponen mesin mobil seperti baut longgar atau sistem pengereman tidak berfungsi.
    Penjelasan: FMEA membantu mencegah risiko yang dapat menyebabkan kecelakaan.
    Contoh: Mode kegagalan "baut longgar" dianalisis, dan tindakan mitigasi berupa pemasangan kunci torsi otomatis diterapkan.
  3. Soal: Bagaimana cara memprioritaskan mode kegagalan dalam FMEA?
    Jawaban: Prioritisasi mode kegagalan dilakukan berdasarkan nilai RPN tertinggi.
    Penjelasan: Fokus harus diberikan pada risiko dengan RPN tertinggi karena dampaknya lebih besar.
    Contoh: Jika risiko "kualitas bahan baku buruk" memiliki RPN 300, maka ini menjadi prioritas dibanding risiko RPN 50.
  4. Soal: Sebutkan kelebihan penerapan FMEA!
    Jawaban:
  1. Mengidentifikasi risiko lebih awal,
  2. Mengurangi dampak kegagalan,
  3. Meningkatkan kualitas produk,
  4. Mengurangi biaya kerugian,
  5. Meningkatkan kepercayaan pelanggan.
    Penjelasan: FMEA membantu bisnis lebih siap menghadapi potensi risiko.
    Contoh: Pabrik elektronik menghindari kegagalan produksi dengan menganalisis komponen yang rentan rusak.
  1. Soal: Apa tantangan dalam penerapan FMEA?
    Jawaban: Tantangan meliputi:
  • Kurangnya data historis,
  • Subjektivitas dalam penilaian,
  • Membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar.
    Penjelasan: Tantangan ini bisa diatasi dengan pelatihan tim dan pengumpulan data yang akurat.
    Contoh: Sebuah pabrik gagal menganalisis risiko dengan baik karena kurangnya data frekuensi kegagalan mesin.
  1. Soal: Bagaimana FMEA membantu meningkatkan kualitas produk?
    Jawaban: Dengan mencegah kegagalan sebelum terjadi, produk menjadi lebih aman, andal, dan sesuai standar kualitas.
    Penjelasan: Analisis risiko memastikan proses berjalan tanpa gangguan.
    Contoh: Risiko "jahitan tidak kuat" pada pakaian diatasi dengan peningkatan teknik jahit otomatis.
  2. Soal: Jelaskan peran tim multidisiplin dalam FMEA!
    Jawaban: Tim multidisiplin membawa perspektif berbeda sehingga analisis FMEA menjadi lebih komprehensif.
    Penjelasan: Setiap anggota memiliki keahlian berbeda yang saling melengkapi.
    Contoh: Tim produksi, teknik, dan kualitas bekerja sama menganalisis risiko pada lini produksi.
  3. Soal: Apa perbedaan antara FMEA proses dan FMEA desain?
    Jawaban:
  • FMEA proses menganalisis risiko kegagalan dalam suatu proses,
  • FMEA desain menganalisis risiko kegagalan dalam desain produk.
    Penjelasan: Keduanya memiliki tujuan yang sama, tetapi fokus pada aspek yang berbeda.
    Contoh: FMEA desain untuk mobil menganalisis desain mesin, sedangkan FMEA proses menganalisis tahap produksi mesin.
  1. Soal: Berikan contoh tindakan mitigasi dari FMEA dalam proses produksi!
    Jawaban: Penerapan sensor otomatis untuk mendeteksi ketidaksesuaian ukuran produk pada lini produksi.
    Penjelasan: Mitigasi dilakukan agar risiko cepat terdeteksi dan diperbaiki.
    Contoh: Sensor menolak produk dengan dimensi salah, sehingga produk rusak tidak lolos ke konsumen.
  2. Soal: Bagaimana FMEA membantu pengambilan keputusan manajemen?
    Jawaban: FMEA memberikan data objektif tentang risiko prioritas sehingga manajemen dapat mengalokasikan sumber daya secara efektif.
    Penjelasan: Keputusan berbasis RPN memastikan langkah mitigasi tepat sasaran.
    Contoh: Risiko downtime mesin dianalisis, dan manajemen memutuskan membeli mesin cadangan.
  1. Soal: Apa perbedaan antara RPN sebelum mitigasi dan setelah mitigasi dalam FMEA?
    Jawaban: RPN sebelum mitigasi menunjukkan tingkat risiko awal, sedangkan RPN setelah mitigasi menunjukkan risiko setelah tindakan mitigasi diterapkan.
    Penjelasan: Perbedaan ini digunakan untuk mengevaluasi efektivitas tindakan mitigasi yang diambil.
    Contoh: Awalnya, risiko "pengelasan tidak sempurna" memiliki RPN 300. Setelah menerapkan pengawasan tambahan, RPN turun menjadi 120.
  2. Soal: Mengapa penilaian skala Severity dalam FMEA harus konsisten?
    Jawaban: Konsistensi dalam skala Severity memastikan hasil analisis FMEA objektif dan dapat diandalkan.
    Penjelasan: Tanpa konsistensi, prioritas risiko dapat salah diinterpretasikan.
    Contoh: Risiko "mesin rusak" dinilai Severity 9, sementara risiko "cat pudar" dinilai Severity 3. Konsistensi menjaga skala ini tetap rasional.
  3. Soal: Apa tujuan menghitung nilai RPN dalam FMEA?
    Jawaban: Tujuannya untuk menentukan prioritas risiko mana yang perlu segera ditangani berdasarkan tingkat keparahan, frekuensi, dan kemampuan deteksi.
    Penjelasan: Risiko dengan nilai RPN tinggi memerlukan perhatian dan tindakan mitigasi secepatnya.
    Contoh: Risiko "produksi berhenti" dengan RPN 360 mendapat prioritas lebih dibandingkan risiko "kemasan rusak" dengan RPN 90.
  4. Soal: Bagaimana cara meningkatkan nilai Detection dalam FMEA?
    Jawaban: Dengan meningkatkan kemampuan sistem deteksi melalui teknologi sensor, inspeksi otomatis, atau pengujian berkala.
    Penjelasan: Semakin rendah nilai Detection, semakin mudah kegagalan dideteksi.
    Contoh: Pemasangan sensor untuk mendeteksi dimensi produk secara otomatis menurunkan nilai D dari 8 menjadi 4.
  5. Soal: Apa peran Severity dalam menentukan RPN?
    Jawaban: Severity menunjukkan tingkat keparahan dampak kegagalan terhadap proses, produk, atau pelanggan.
    Penjelasan: Semakin tinggi Severity, semakin serius dampak dari kegagalan tersebut.
    Contoh: Risiko "rem mobil tidak berfungsi" memiliki Severity 10 karena dampaknya berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal.
  6. Soal: Bagaimana jika nilai RPN tidak turun meskipun tindakan mitigasi sudah dilakukan?
    Jawaban: Jika RPN tidak turun, perlu dilakukan evaluasi ulang terhadap efektivitas tindakan mitigasi dan mencari alternatif solusi yang lebih baik.
    Penjelasan: Hal ini menunjukkan tindakan mitigasi belum efektif mengatasi risiko yang ada.
    Contoh: Mesin produksi masih sering berhenti meskipun sudah dilakukan perawatan berkala, sehingga dipertimbangkan penggantian mesin baru.
  7. Soal: Apa dampak jika FMEA tidak diterapkan dalam proses bisnis?
    Jawaban: Tanpa FMEA, risiko kegagalan tidak teridentifikasi, berpotensi menyebabkan kerugian besar, penurunan kualitas produk, dan kehilangan kepercayaan pelanggan.
    Penjelasan: FMEA membantu mengantisipasi risiko lebih awal.
    Contoh: Tanpa FMEA, perusahaan otomotif gagal mendeteksi risiko "baut longgar" hingga menyebabkan produk recall.
  8. Soal: Sebutkan jenis industri yang paling diuntungkan dengan penerapan FMEA!
    Jawaban: Industri manufaktur, otomotif, farmasi, teknologi, makanan dan minuman, serta kesehatan.
    Penjelasan: FMEA membantu industri ini mencegah risiko yang dapat memengaruhi keselamatan, kualitas, dan kepatuhan regulasi.
    Contoh: Industri farmasi menganalisis risiko "kontaminasi produk" untuk memastikan keamanan obat.
  9. Soal: Bagaimana menentukan Occurrence dalam FMEA jika data historis tidak tersedia?
    Jawaban: Jika data historis tidak tersedia, penentuan Occurrence dilakukan melalui:
  • Wawancara dengan ahli,
  • Analisis prediktif,
  • Benchmarking dengan kasus serupa.
    Penjelasan: Pendekatan kualitatif membantu memperkirakan frekuensi kegagalan.
    Contoh: Pada produk baru, tim teknik memperkirakan risiko "komponen retak" berdasarkan pengalaman produk serupa.
  1. Soal: Apa dampak dari nilai RPN yang tinggi dalam bisnis?
    Jawaban: Nilai RPN tinggi menunjukkan risiko besar yang harus segera diatasi, jika tidak, dapat menyebabkan gangguan operasional, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi.
    Penjelasan: RPN menjadi indikator tingkat risiko.
    Contoh: Risiko "mesin produksi gagal beroperasi" dengan RPN 400 bisa menghentikan seluruh proses produksi.
  2. Soal: Bagaimana cara memastikan tim FMEA bekerja efektif?
    Jawaban:
  1. Menyusun tim lintas fungsi,
  2. Memberikan pelatihan FMEA,
  3. Menggunakan data yang valid,
  4. Melakukan komunikasi yang terbuka,
  5. Menindaklanjuti hasil FMEA.
    Penjelasan: Kolaborasi dan keahlian yang tepat membuat FMEA efektif.
    Contoh: Tim dari produksi, kualitas, dan teknik bekerja sama dalam analisis FMEA risiko "produk tidak sesuai spesifikasi."
  1. Soal: Apa keuntungan menggunakan FMEA secara berkala?
    Jawaban:
  1. Risiko baru dapat diidentifikasi lebih cepat,
  2. Proses bisnis terus diperbarui,
  3. Mencegah risiko berulang,
  4. Meningkatkan efisiensi dan kualitas.
    Penjelasan: FMEA berkala menjaga proses bisnis tetap aman dan optimal.
    Contoh: Setiap triwulan, tim melakukan FMEA ulang untuk mengidentifikasi risiko baru dalam proses produksi.
  1. Soal: Apa hubungan antara FMEA dan kepuasan pelanggan?
    Jawaban: Dengan menerapkan FMEA, risiko yang dapat memengaruhi kualitas produk diminimalkan, sehingga produk lebih andal dan memenuhi harapan pelanggan.
    Penjelasan: Produk yang minim risiko memberikan kepuasan lebih kepada pelanggan.
    Contoh: Perusahaan elektronik menerapkan FMEA pada produksi smartphone, memastikan tidak ada risiko "baterai cepat habis," yang akhirnya meningkatkan kepuasan pelanggan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Soal Latihan Risiko dalam Proses Bisnis"

Posting Komentar

💖 Donasi